Rabu, 02 Februari 2011

Trs: (e-RH) Januari 28 -- MAKAM TERBUKA



--- Pada Kam, 27/1/11, e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org> menulis:

Dari: e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Judul: (e-RH) Januari 28 -- MAKAM TERBUKA
Kepada: "e-RH" <i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Tanggal: Kamis, 27 Januari, 2011, 11:10 PM

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                          e-Renungan Harian
     Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Jumat, 28 Januari 2011
Bacaan : Pengkhotbah 11:9-12:8
Setahun: Keluaran 32-34
Nats: Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum ... roh
      kembali kepada Allah yang mengaruniakannya (Pengkhotbah 12:1, 7)

Judul:

                            MAKAM TERBUKA

  Eugene Peterson, pendeta dan penerjemah Alkitab, menceritakan
  pengalamannya berkunjung ke biara Benediktin Kristus di Gurun.
  Ketika hendak makan siang, mereka melewati kompleks pemakaman.
  Anehnya, di situ ada satu makam yang terbuka. Eugene menanyakan
  siapa anggota biara yang baru saja meninggal. "Tidak ada, " jawab
  orang yang mengantarnya. "Makam itu disiapkan untuk siapa saja yang
  meninggal berikutnya." Begitulah, tiga kali sehari, setiap kali
  mereka berjalan menuju ruang makan, anggota biara itu diingatkan
  akan perkara yang lebih sering kita tepiskan: kematian. Salah satu
  dari mereka mungkin akan menjadi yang berikutnya.



  Budaya dunia cenderung menepiskan kematian. Banyak dongeng tentang
  batu bertuah yang dapat membuat orang awet muda atau hidup abadi. Di
  dunia modern, aneka produk anti penuaan juga menjamur. Kita
  diiming-imingi ilusi untuk menikmati kehidupan ini selama mungkin
  dan dalam kondisi tubuh sebugar mungkin. Firman Tuhan, sebaliknya,
  sangat realistis.



  Pengkhotbah mendorong kaum muda untuk menikmati kemudaannya, tetapi
  sekaligus menyodorkan fakta akan kematian kepada mereka. Kematian
  bisa menjemput kapan saja. Tanpa memandang umur kita. Tanpa
  memandang kondisi tubuh kita. Tanpa kita duga-duga.



  Pengkhotbah pun menawarkan resep hidup yang jitu: "Ingatlah akan
  Penciptamu." Ingatlah bahwa hidup ini hanya "barang pinjaman".
  Perlakukanlah secara bijaksana. Dan, karena kita tidak pernah tahu
  kapan masa pinjam itu habis, perlakukanlah setiap hari seolah-olah
  itu hari yang terakhir. Bagaimana kiranya kita akan menjalani hari
  terakhir kita? --ARS

         BAYANG-BAYANG KEMATIAN JUSTRU DAPAT MENYADARKAN KITA
                AKAN BETAPA BERHARGANYA KEHIDUPAN INI

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2011-01-28
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2011/01/28/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:          http://alkitab.sabda.org/?Pengkhotbah+11:9-12:8

  Pengkhotbah 11:9-12:8

   9  Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu
      bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan
      pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini
      Allah akan membawa engkau ke pengadilan!
  10  Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari
      tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.
   1  Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba
      hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan:
      "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!",
   2  sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi
      gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan,
   3  pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat
      membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena
      berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya
      menjadi kabur,
   4  dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan
      menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan
      semua penyanyi perempuan tunduk,
   5  juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan,
      pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah
      payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi--karena
      manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap
      berkeliaran di jalan,
   6  sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan,
      sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba
      dirusakkan di atas sumur,
   7  dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali
      kepada Allah yang mengaruniakannya.
   8  Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu
      adalah sia-sia.

Bacaan Alkitab Setahun:
      http://alkitab.sabda.org/?Keluaran+32-34


e-RH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
                Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
          Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria