Selasa, 28 Desember 2010

Trs: (e-RH) Desember 28 -- MENGAPA INI TERJADI?

Salam Bahagia,


--- Pada Sen, 27/12/10, e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org> menulis:

Dari: e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Judul: (e-RH) Desember 28 -- MENGAPA INI TERJADI?
Kepada: "e-RH" <i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Tanggal: Senin, 27 Desember, 2010, 11:10 PM

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                          e-Renungan Harian
     Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Selasa, 28 Desember 2010
Bacaan : Mazmur 42:1-6
Setahun: Zakharia 5-8; Wahyu 19
Nats: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam
      diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi
      kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6)

Judul:

                         MENGAPA INI TERJADI?

  Sungguh tak terperi duka dan derita yang dirasakan Sardiyanto,
  pria paruh baya yang berasal dari Jawa Tengah itu. Ia selalu
  meneteskan air mata ketika mengenang peristiwa tragis yang terjadi
  tiga tahun silam. Bagaimana tidak, ia harus kehilangan lima anggota
  keluarganya sekaligus dalam peristiwa nahas tragedi hilangnya
  pesawat komersial nasional jurusan Surabaya-Manado pada tanggal 1
  Januari 2007. Sardiyanto tidak sendirian, ada banyak keluarga lain
  yang juga turut kehilangan orang-orang dalam kecelakaan tersebut.

  Ketika kita mengalami peristiwa menyedihkan, kerap timbul pertanyaan
  di hati, "Mengapa ini terjadi? Mengapa saya harus mengalami ini?"
  Dan, kita tidak menemukan jawabnya. Ya, dalam hidup ini ada banyak
  peristiwa yang terjadi tanpa alasan atau jawaban yang memuaskan.
  Bencana alam yang meluluhlantakkan dan meninggalkan luka begitu
  dalam; penyakit berat yang tiba-tiba datang mendera tubuh; kegagalan
  demi kegagalan; dan persoalan yang seolah-olah tidak berujung.

  Begitulah, banyak hal dalam hidup ini yang terjadi begitu saja.
  Maka, baiklah kita meresponsnya bukan dengan gugatan atau pun
  protes, melainkan dengan hati yang berserah dan tetap bersyukur.
  Seperti pemazmur yang dalam segala duka dan derita, tekanan jiwa dan
  kegelisahannya yang dialami, ia berharap kepada Allah dan tetap
  bersyukur kepada-Nya (ayat 6). Maka, marilah kita berhenti mencari
  jawaban.

  Jalani saja hidup ini dengan rela. Mungkin itu tidak serta merta
  akan menyelesaikan masalah, tetapi minimal tidak akan menimbulkan
  masalah baru atau menambah berat masalah yang sudah ada --AYA

                      BERDAMAI DENGAN KENYATAAN
            KERAP MERUPAKAN JAWABAN DARI BANYAK PERTANYAAN

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2010-12-28
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/12/28/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:                  http://alkitab.sabda.org/?Mazmur+42:1-6

  Mazmur 42:1-6

   1  Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2)
      Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah
      jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
   2  (42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.
      Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
   3  (42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena
      sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
   4  (42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku
      gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan
      manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara
      sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang
      yang mengadakan perayaan.
   5  (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam
      diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi
      kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
   6  (42-7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat
      kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari
      gunung Mizar.

Bacaan Alkitab Setahun:
      http://alkitab.sabda.org/?Zakharia+5-8
      http://alkitab.sabda.org/?Wahyu+19


e-RH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
                Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
          Diterbitkan dan Hak Cipta (c) oleh Yayasan Gloria

Untuk mengenal lebih jauh tentang GKJ Cilacap Utara
Cobalah klik disini

Sabtu, 11 Desember 2010

Trs: (e-RH) Desember 10 -- KUASA DALAM PUJIAN



--- Pada Kam, 9/12/10, e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org> menulis:

Dari: e-RH <owner-i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Judul: (e-RH) Desember 10 -- KUASA DALAM PUJIAN
Kepada: "e-RH" <i-kan-akar-renungan-harian@hub.xc.org>
Tanggal: Kamis, 9 Desember, 2010, 11:10 PM

e-RH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                          e-Renungan Harian
     Sarana untuk bertumbuh dalam iman & menjadi saksi Kristus
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Tanggal: Jumat, 10 Desember 2010
Bacaan : Kisah Para Rasul 16:19-31
Setahun: Hosea 1-4; Wahyu 1
Nats: ... dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,
      kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan
      bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:19)

Judul:

                          KUASA DALAM PUJIAN

  Ketika saya mendampingi Ayah menjalani operasi atas kanker yang
  dideritanya, lalu menjalani perawatan selama lebih dari dua bulan di
  rumah sakit, rasa khawatir serta putus asa sering menyergap. Membuat
  saya sangat takut dan tidak berdaya. Untuk mengurangi kegelisahan di
  hati, setiap malam saya melantunkan kidung pujian sembari
  mendampingi Ayah yang mengalami insomnia. Awalnya, saya melakukannya
  hanya untuk kepentingan pribadi dan menyanyi dengan sangat lirih
  karena takut mengganggu kenyamanan pasien lain. Namun, ternyata
  pasien yang lain serta keluarga-yang se-ruangan dengan Ayah-tidak
  keberatan saya menyanyi, malah meminta saya menyanyi untuk semua,
  sebab kata mereka, nyanyian yang saya naikkan menenteramkan hati
  mereka juga.

  Saya teringat kepada Rasul Paulus dan Silas yang tetap memuji Tuhan
  dalam masa sulit. Tubuh mereka tentu tersiksa karena hukuman dera
  yang dijatuhkan, dan terkurung di penjara yang sangat tidak nyaman
  (ayat 23, 24). Namun, mereka tidak mengeluh dan berputus asa.
  Sebaliknya mereka justru berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah.
  Tidak dengan ragu, malu, apalagi takut. Mereka memuji Tuhan dengan
  suara lantang hingga seluruh penghuni penjara turut mendengarkan
  (ayat 25). Dan, mukjizat pun terjadi! (ayat 26).

  Biarlah bibir kita suka menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan.
  Khususnya pada masa yang sulit dan berat. Sebab, ada kuasa dalam
  setiap pujian yang dinaikkan dengan segenap hati. Kuasa yang
  membangkitkan iman kita sendiri, yang menguatkan orang lain di
  sekitar kita, yang mengagungkan kebesaran Tuhan, Sang Pengendali
  segala peristiwa --SR

                 ALLAH BEKERJA MELALUI SETIAP PUJIAN
                         YANG KITA HANTARKAN

e-RH Situs:  http://renunganharian.net/utama.php?tanggalnya=2010-12-10
e-RH arsip web:        http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/12/10/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab:      http://alkitab.sabda.org/?Kisah+Para+Rasul+16:19-31

  ......Kenangan mendiang bapak di gombong...
Saat Bapak masuk ICU RS Palang Biru Gombong rasanya kasihan sekali,
lihat detak jantung yang tergabar di monitor begitu berdegup kencang. nut..nut..nut.. begitu bunyi monitor itu, diselingi oleh bunyi
oksigen masuk ke mulut melalui selang yang cukup besar memaksa bapak
untuk terus mengangakan mulutnya..wes...wes...wes... begitu suaranya...,
di samping kiri - kanan terdengar juga mesin yang sama bagi pasien lain......
Rame terdengar, seperti suara jangkrik di kampung tapi mencekam.....
Kuingat dalam beberapa malam saat jaga malam bergantian dengan ibu
dan juju, aku sempat membawa buku kidung jawa, kunyanyikan lirih di
dekat kepala bapak...kuharap dengan lagu tadi mampu menguatkan bapak
yang sedang sakit maupun bagi diriku sendiri......
Kidung yang kusenangi  "He wong kang kabotan dosa Gusti ungsenana",
kunyanyikan lembut kadang sampai hanya berupa gumaman saja.... sambil
kulihat begitu sengsaranya bapak menarik nafas....begitu berat, sampai
kadang itu selang masuk ke lubang gigi yang bolong, semakin 
bertambah keras tersengal-sengalnya, kadang kubenerin tapi kembali
lagi ke lubang gigi tadi..., rasanya begitu berat.
10 Hari di Ruang ICU, hanya satu hari tersadar pada hari ketiga,
namun selepas itu tidak sadar kembali hingga Tuhan panggil beliau...
9 April 2009.